Rabu, 12 Maret 2014

My Friend, Come Back Please!!

Dua tahun telah berlalu. Ya, saat-saat ketika Ayar sudah pergi meninggalkan aku dan aku selalu dihantui oleh bayang-bayangnya. Ayar pindah ke Makassar meninggalkan aku karena dia ikut dengan ayahnya yang bekerja disana.
Hingga saat ini aku selalu terbayang kebaikan dia dan keluarganya, teringat kenangan-kenangan manis bersamanya. Dia adalah sahabat kecilku.
Malam itu aku berdoa “Ya Tuhan, apakah Ayar masih ingat padaku? Atau mungkinkah dia sudah melupakanku? Kembalikan dia padaku Ya Tuhan…!”
Itulah doaku yang selama ini sering aku ucapkan sehabis sholat tahajud.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah diantar oleh ayahku. Sesampainya di sekolah, aku duduk di bawah pohon glodok bersama Febri.
Tiba-tiba… “Eh, Nil aku mau tanya sesuatu boleh gak?”
“Boleh, tanya apaan Feb?” Jawabku dengan penuh penasaran.
Kemudian Febri diam sejenak. Hatiku terus berdebar-debar menunggu pertanyaan dari Febri. Ah, paling Febri ingin menanyakan tentang tugas IPA yang kemarin belum sempat terselesaikan. Namun, itu semua tidak sesuai dengan fikiran dan hatiku. Febri malah bertanya tentang keadaan Aray padaku.
“Feb, dua tahun ini sudah gak ada kabar lagi tentang Aray, aku sms dia gak dibales, di Facebook aku inbox dia juga gak dibales.”
“Emang, kamu gak punya alamat Twitternya ya?”
“Apa? masa sih Aray punya twitter? kok dia gak follow aku.”
Kriiingg… Kriiing.. bel tanda masuk berbunyi. Aku dan Febri menyudahi pembicaraan kami.
Di kantin, aku sempat bertemu dengan Febri dan teman-temannya. Aku dan teman-temanku duduk di sebelah selatan kantin. “Vi Devi, geser dikit donk tempat duduknya.” Meiya menyuruh Devi menggeser agar dia kebagian tempat duduk. “Nin, Febri tuh keren ya… coba lihat, dia berjalan ke arah sini deh kayaknya.” Ya, ucap Ika temanku yang menyukai Febri.
Febri berjalan menghampiriku dan memanggilku. Kelihatannya, Ika cemburu padaku. Mungkin, Febri ingin melanjutkan omongan yang di bawah pohon glodok tadi. Ternyata dugaan ku tidak salah. Febri mengajakku ke kantin sebelah Utara dan aku pun dipersilahkan duduk.
“Nil, sebenarnya, ada yang mau aku omongin ke kamu tentang persoalan tadi pagi. Tapi aku takut kamu menjadi sedih dan terpuruk nantinya.”
“Emang ada apaan sih Feb? kalau ngomong yang jelas donk… don’t make me worry. You know!” Ucapku dengan nada tinggi kepada Febri. Tapi entah mengapa, wajah Febri sepertinya menjelaskan sesuatu yang begitu amat menyedihkan tentang Ayar. “Nil, sebenarnya aku dapat berita tentang Ayar ini barusan aja.”
“So, what the berita?”
Tiba-tiba… Kriiingg.. Kriing… Kriing… Bel masuk pun sudah berbunyi. Aku begitu kesal dengan Febri. Aku langsung mengikuti teman-temanku kembali ke kelas kami.
Siang itu, pelajaran berakhir dengan penuh ceria. Hemm, so, gak ada kata galau dalam hati aku. Say no to GALAU. hahaha…
Namun, di jalan aku bertemu Febri lagi. “Feb, apaan sih? minggir sana!! aku mau lewat tau…”
“Nil, ayo ikut aku, jangan pulang dulu… Please, follow me in the class 7E.. I want tell something to you…”
“Ya deh, so, I will follow you…”
Setelah sampai di kelas 7E, aku dan Febri duduk-duduk di teras kelas. Febri menceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar terkejut dengan omongan Febri, seakan aku berada di alam mimpi. Aku tak menyangka, ternyata Sahabatku kini sudah tiada. “FEBRIII kamu serius kan? Do you honest to me? I don’t agree with you… OH GOD, mengapa semua bisa terjadi?”
Aku benar-benar histeris dan meneteskan air mata. Setelah mendengar cerita bahwa Ayar disana kecelakaan bus karena akan berangkat ke bandara. Kini pasrah sudah. Febri mendapat berita tersebut katanya sih sudah 7 bulan yang lalu. Tetapi, dia menceritakan padaku baru sekarang karena aku sedang berada dalam masa sibukku. Febri takut menggangguku.
Kini lenyaplah sudah harapanku ingin bertemu sahabatku. TUHAN, andai saja aku dapat memutar waktu. Aku ingin TUHAN mengembalikan Ayar kepadaku. Selamat jalan sahabatku Ayar, selamat tinggal sahabat kecilku. Semoga arwahmu diterima di sisinya. Satu hal yang ingin ku katakan padamu, “Aku menyayangimu sahabatku, bahkan aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat.”
“Sabar sahabatku, tabahlah, ini sudah ketentuan dari TUHAN. Doakan Ayar, semoga dia layak di tempatkan di surga.”
Hanya saja aku juga tidak bisa membohongi hati kecilku yang ingin berteriak “MY FRIEND, COME BACK PLEASE!!!”

Selasa, 11 Maret 2014

Biodata Celia Thomas - Pacar Rizky Nazar -

Namanya mulai semakin dikenal sejak gosip yang melanda pacarnya yaitu Rizky Nazar dimana Rizky dikabarkan menjalin hubungan dengan Anisa Rahma. Kedekatannya dengan Rizky memang menjadi salah satu hal yang sering dipertanyakan oleh para penggemar.

Celia Thomas yang memiliki nama asli Celia Nadia Agatha Thomas juga merupakan artis yang sering membintangi sejumlah sinetron baik dilayar kaca maupun juga dilayar lebar. 

Doi mengawali kariernya saat membintangi sinetron berjudul "ulat kepompong" yang ditayangkan di salahsatu televisi swasta Indonesia dimana dia berperan sebagai Lina. 

Biodata Celia Thomas - Pacar Rizky Nazar
Foto Celia Thomas dan Pacarnya - Rizky Nazar
credit image google.com


Selain sinetron tersebut, Celia Thomas juga sempat membintangi sinetron lain diantaranya adalah: ""Cinta Fitri Season 7" (2011) dimana Celia berperan sebagai Nadine, Sinetron "Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu The Series" (2012) berperan sebagai Fifi, Selanjutnya adalah sinetron "Super ABG" yang berperan sebagai Riri, dan yang terakhir adalah salah satu sinetron unggulan RCTI yang berjudul "Emak Ijah Pengen Ke Mekah" (2013) sebagai Zahra yang juga diperankan oleh Ucup Nirin dan Si Mancung.

Biodata Celia Thomas



  • Nama Asli : Celia Nadia Agatha Thomas
  • Nama Panggilan : Celia (cecel)
  • Lahir : Jakarta, 11 Agustus 1997
  • Agama : Islam
  • Warga Negara : Indonesia (keturunan Amerika)
  • Pendidikan : Alumni SMP Islam Al-Azhar, Cibubur
  • Karier : Artis
  • Tahun Aktif : 1999
  • Hobi : Foto
  • Saudara : Andika Thomas - Kevin
  • Pasangan : Rizky Nazar (Jadian 11 November 2012)
  • Akun Twitter  : @celiathomas


Cewek yang dilahirkan sebagai anak bungsu dari 3 saudara ini memang suka sekali menggambar dengan spidol dibadannya. Ada yang beranggapan bahwa itu memang tatto namun hal itu ditepisnya karena itu hanya sebuah gambar yang dibuat menggunakan spidol.

Celia Thomas memiliki nama panggilan sayang untuk pacarnya dengan sebutan Ka Iky yang diambil dari nama Rizky. Doi sendiri selalu mengikuti kegiatan sekolahnya dengan memakai kerudung atau Jilbab dan juga pandai dalam membaca AL-Quran.

Meskipun hubungannya dengan Rizky Nazar jarang sekali diekspose oleh media, namun sampai sekarang hubungan asmara yang diresmikan sejak tanggal 11 November 2012 ini masih tetap langgeng meskipun banyak gosip yang menerpa keduanya terutama Rizky.

Celia Thomas dan Rizky Nazar bisa dikatakan sebagai pasanbgan cinlok dimana pertemuan keduanya bermula saat sama sama membintangi sinetron berjudul "Super ABG" dan hal ini juga dibenarkan oleh Rizky.

“Kami bertemu di lokasi syuting sinetron Super ABG. Dia salah satu motivasi biar semangat syuting,” ungkap Rizky saat ditemui wartawan beberapa waktu yang lalu. Kendati demikian, Rizky dan Celia enggan membicarakan tentang hubungan mereka!!

Senin, 10 Maret 2014

itu bukan salahku

Hening malam membuat seorang gadis tertidur di meja belajarnya. Keheningan itu terpecahkan oleh suara rintikan air hujan yang semakin deras. Tetesan air hujan yang jatuh di leher gadis itu, membuatnya terbangun tanpa kata. Perlahan ia melangkahkan kaki mencari mangkuk plastik dan meletakkannya di bawah tetesan air hujan itu. Buku tulisnya yang bergambar boneka beruang masih terbuka di atas meja belajar yang berantakan. Melihat keadaan itu buku-buku dirapikannya. Setelah terlihat rapi, gadis itu melanjutkan tidurnya di tempat tidur dan bermimpi menjadi orang sukses serta penuh rasa tanggung jawab.
Pukul 04.00, weker gadis itu berbunyi. Gadis yang bernama Lyra meninggalkan mimpinya dan langsung membuka buku pelajaran yang ada pada jadwal di hari itu. Mangkuk yang ia letakkan semalam di atas meja belajarnya sudah terisi penuh dengan air hujan. Tak seperti hari-hari biasanya Lyra belum mengerjakan tugas membuat 5 pantun yang harus dikumpulkannya siang nanti. Dengan tergesa-gesa ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesianya.
Tak terasa matahari mulai menyapa pagi hari. Lyra langsung dengan sigap menyiapkan segala hal yang ia butuhkan untuk pergi sekolah. Matahari sudah menampakkan seluruh sinarnya, Lyra cepat-cepat mengambil sepedanya. Perasaanya mulai bimbang, takut terlambat dan tidak boleh masuk ke dalam kelas. Untung saja ia belum terlambat masuk ke dalam kelas. Banyak teman-teman sekelaasnya yang bertanya-tanya karena tidak biasanya Lyra berangkat saat matahari sudah menampakkan seluruh sinarnya.
“Lyra, tumben kamu baru berangkat jam segini? Biasanya ayam jantan belum berkokok saja kamu sudah sampai di sekolah, walaupun kamu masih nungguin pintunya dibuka,” ucap Rina teman sebangkunya.
“Ah, bisa aja kamu Rin. Biasanya aku berangkat enggak sepagi itu kalau hari ini sih aku memang kesiangan. Eiittss, tapi jangan salah maksudku bukan kesiangan bangun tidurnya, tapi kesiangan ngerjain tugas dari Bu Ira yang disuruh buat pantun itu. Soalnya aku lupa,” kata Lyra.
“Iya, aku udah tahu kalau soal itu. Kamu itu anak yang rajin dan cerdas, tapi enggak biasanya kamu lupa ngerjain tugas,” balas Rina mengernyitkan jidat.
“Emm, aku juga enggak tahu nih. Akhir-akhir ini aku sering lupa gitu. Mungkin faktor usia kali, kemarin aku habis ulang tahun. Hehehe,” canda Lyra kepada Rina.
Suara lonceng berbunyi nyaring mengakhiri pembicaraan kedua gadis itu dan menandakan pelajaran pertama akan dimulai.
Pelajaran pertama di pagi yang cerah itu adalah Bahasa Indonesia, sehingga kelas 8A harus mengumpulkan tugas masing-masing. Kemudian Bu Ira datang dengan wajah berseri-seri.
“Banyak kendi di dalam kotak. Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Ira dengan wajah gembira.
“Selamat pagi, Bu!” jawab murid-murid serempak.
“Berlari-lari tikus diracun. Racunnya ada digalian. Kita akan belajar berpantun. Kumpulkan tugas kalian!” perintah Bu Ira dengan berpantun.
Jam pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pun berlalu. Lonceng berbunyi menandakan jam sekolah sudah habis dan menandakan saatnya pulang. Lyra pulang menaiki sepeda mininya dan mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya. Sampai perkampungan di sekitar rumahnya Lyra selalu tersenyum dan menyapa orang-orang yang ada di luar rumah. Semua orang yang mengenalnya juga membalasnya dengan senyuman dan ada yang meminta Lyra untuk mampir ke salah satu rumah tetangganya itu, namun ia menolak karena takut dimarahi Ibu kalau tidak pulang tepat waktu. Memang Lyra dikenal di lingkungannya sebagai pribadi yang baik dan ramah, akan tetapi penilaian setiap orang itu berbeda-beda.
Sesampainya di rumah, Lyra berganti pakaian. Kemudian melempar tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Tiba-tiba Ibu datang dan berteriak.
“Lyra, Ibu minta tolong lantai rumahnya disapu ya! Tadi pagi, Ibu belum sempat menyapu lantai,” perintah Ibu.
“Bu, Lyra capek. Lyra mau tidur siang dulu. Aku ngantuk tadi seharian di sekolah mulu. Lagian Ibu dari tadi di rumah biasanya Ibu yang menyapu lantainya,” tolak Lyra pelan.
“Ibu malah lebih capek. Seharian buatin makan buat kamu. Belum lagi ngurusin adik kamu yang masih kecil. Kamu di sekolah cuma duduk dan belajar, sedangkan Ibu bekerja mengurusi rumah tangga. Masa kamu tidak mau cuma disuruh menyapu lantai saja?” sanggah Ibu.
“Bu Lyra benar-benar capek. Belum lagi tugas-tugas yang belum Lyra kerjakan itu banyak. Terus nanti sore aku punya tanggung jawab untuk mengajar TPA,” tolak Lyra untuk yang kedua kalinya.
“Lalu mana tanggung jawab kamu sebagai anak Ibu? Tanggung jawab kamu untuk membantu Ibu dan mengasuh adikmu. Tugas di sekolah memang harus diselesaikan, tapi kamu harus dapat membagi waktu dengan tugas rumah, yaitu tanggung jawab kamu sebagai seorang anak. Mana Lyra yang dulu? Lyra yang selalu membantu Ibu. Lyra yang selalu Ikhlas dan bersemangat dalam hal apapun dan tidak seperti ini. Sekarang kamu cepat lelah dan ngeyel,” kata Ibu dengan sedikit marah.
Ibu langsung meninggalkan Lyra yang wajahnya mulai memerah. Namun, Lyra menghiraukan perkataan Ibunya dan ia pun tidur siang tanpa mengingat sepatah kata apapun dari Ibunya.
Dahulu Lyra memang anak yang baik, suka membantu orangtua, dan ia juga sering membantu orangtuanya. Setiap pulang sekolah dia membantu Ibunya, tetapi seewaktu masih SD dan sekarang dia sudah SMP. Sebenarnya, asalkan bisa membagi waktu saja semua hal seperti, tugas sekolah atau tanggung jawab di rumah dapat dilakukan.
Sore hari, masjid Al-Akbar sudah dipenuhi anak-anak kecil sampai remaja yang datang dan siap untuk belajar Iqra maupun Al-Qur’an. Mereka sudah berpakaian rapi. Setelah adzan berkumandang, mereka bersama-sama membaca ayat suci Al-Qur’an. Lyra mempunyai tanggung jawab untuk mengajar ngaji dengan senang dan sabar. Ada salah satu santri yang datang mendekati Lyra.
“Kak, aku ingin menjadi seperti Kak Lyra,” ucap anak kecil itu.
“Memangnya kenapa, Dek?” tanya Lyra.
“Kakak itu orangnya baik, pintar, terus Kakak juga murah senyum. Pasti Kak Lyra di rumah juga sering bantuin Ibu. Iya kan Kak?” jawabnya.
Lyra hanya tersenyum menanggapi perkataan anak kecil itu. Kata-kata dari mulut anak kecil itu mengingatkannya kepada perkataan Ibunya tadi siang. Sebelumnya ia sempat lupa dan menghiraukan perkataan Ibunya, namun malah teringat lagi. Seribu pertanyaan mulai tumbuh di dalam benaknya.
“Apa aku salah? Tidak itu bukan salahku. Menurutku aku sudah bisa membagi antara tugas dan tanggung jawabku”, ucap Lyra dari dalam hatinya.
Lyra selalu menjadi yang paling benar. Padahal, apa yang dipikirkannya belum tentu benar. Akhirnya, dia selalu teringat nasihat Ibu. Saat sedang belajar, dia tidak bisa fokus karena seperti ada yang mengganjal di pikirannya. Kemudian, Lyra menyempatkan diri untuk bertanya kepada Ibunya. Dia mendekati Ibu yang sedang menonton acara televisi kesukaannya.
“Ibu apa aku salah jika tidak membantu Ibu hanya dengan alasan capek? Aku tidak salahkan Bu?”, tanya Lyra dengan nada lembut.
“Tidak sayang. Kamu tidak bersalah. Ibu tahu kalau kamu sudah capek dengan pelajaran di sekolah belum lagi ditambah tugas-tugasnya. Hanya saja kamu harus bisa membagi waktu atau membedakan antara tugas sekolah dan tanggung jawabmu di rumah. Selain itu, kamu juga harus mempunyai pribadi yang baik dan memberi contoh untuk teman-temanmu yang lain,” nasihat Ibu kepada Lyra.
“Aku memang belum bisa membedakan antar tugas dan tanggung jawab, tetapi kalau bersifat baik dengan lingkungan aku sudah bisa. Baiklah Bu, aku akan mencoba untuk menjadi yang lebih baik lagi. Besok aku pasti sudah bisa membagi waktu untuk tugas sekolahku dan tanggung jawabku sebagai seorang anak,” ucap Lyra optimis.
Asalkan mau mencoba pasti apapun dapat dilakukan. Semenjak saat itu, Lyra dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dari sekolah dan tanggung jawabnya di rumah juga dapat dilaksanaknnya dengan senang hati. Selain itu, sifatnya yang semakin baik di lingkungannya membuatnya lebih terkenal dan menjadi anak yang selalu diperbincangkan oleh tetangga-tetangganya.

Sabtu, 08 Maret 2014

cerpen berjudul- 'dan kamu nggak tahu'


Dimana hati, dimana pikiran, dimana raga udah linglung. whatever sih orang mau bilang apa atau mau bilang gimana, tapi yang pasti perasaan nggak bisa dipaksa buat dihentikan kan?
Mungkin ini karena kemakan omongan juga sih, ya aku memang pernah bilang, aku anti punya perasaan sama sahabat aku sendiri. well udah resiko aku sih, karma memang berlaku.
Sampai kapan aku bakal gini terus, bakal sakit hati terus, bakal ngepal tangan terus, pengen mukul wajah cewek kamu itu.
Cerita ini berawal dari persahabatan yang indah, pertemuan yang nggak pernah teringat lagi gimana awalnya, kenapa kita udah kenal aja, udah tau sama tau aja, udah sahabatan aja, udah saling support aja, udah saling membantu, dan selalu ada saat suka dan duka aja, dan bagaimana rasa sayang kepada sahabat ini berubah menjadi cinta melebihi batas garis persahabatan.
Aku nggak pernah ngerasa bahwa aku memiliki perasaan cinta kepada dia, sampai saatnya dia curhat ke aku kalau dia bener-bener lagi jatuh cinta kepada adik kelas dan sangat ingin memilikinya, entah kenapa rasanya ada tendangan keras entah dari sudut mana di dalam hati ini yang membuat aku ingin menangis, tapi dengan senyuman aku menutupnya dan berkata
“kamu suka dia ben? ya udah kenapa nggak ditembak aja?”
“kamu tau nggak, anita itu banyak yang suka, dia itu pokoknya… ya cantiiik banget lah ra” katanya dengan senyum yang manis banget.
“aku takut dia nolak aku ra” lanjutnya
“nggak akan ada yang bisa nolak kamu”
“apa?” tanyanya dan menatapku begitu dalam
“hm.. maksudku, kan cewek bisa aja luluh sama kamu, kamu itu jago gombal ben, siapa coba yang nggak bisa masuk perangkap kamu, beny si cowok penakluk wanita” kataku sambil tertawa kecil
“ah.. siapa bilang? nggak juga, kalau kamu di posisi anita, kamu mau nggak nerima aku?”
Dia menatap ku lekat, aku pun begitu, aku benar-benar bingung, apa yang harus ku jawab, kalau aku bilang iya aku takut dia tau perasaanku sebenarnya, tapi kalau aku bilang enggak, aku takut ada raut wajah kecewa darinya, sebenarnya saat itu aku benar-benar nervous.
“rara!! Darimana aja sih? aku nungguin loh, cepetan itu guru privat udah nungguin dari tadi” ternyata itu teriakan temen sekelas ku
“iyayaaa, ben aku duluan ya.”
“ra, tungguin dong, aku masih pengen curhat” kata beny dengan muka memelas
“duh, rin duluan aja deh ntar aku nyusul kok”
“payaaah” kata ririn dan lalu meninggalkan kami berdua
“iya apaan? Buruan mau les nih.” kataku dan duduk di sebelahnya
“ra, aku kaku bilang i love you, gimana dong? aku pengen nembak anita, kamu tau kan kami udah pdkt hampir 5 bulan, aku rasa ini saatnya ra.”
Entah kenapa ada rasa yang begitu sakit yang gak bisa aku terima dari kata-kata yang diucapkan beny,
“memang apa urusannya sama aku?” kataku kesal
“loh, kok gitu? jahat banget?”
“menurut kamu jahatan mana, orang yang cemburu atau orang yang buat cemburu?”
“haa? maksudmu?”
“lupakan. pakai bahasa isyarat aja, kalau kamu nggak bisa ucapin i love you ke anita”
“bahasa isyarat? gimana caranya?”
Aku ajarin ke dia dengan begitu bodohnya, aku genggam tangannya, lalu kutatap matanya, aku kelu entah apa yang kurasa hatiku ingin bilang, aku sayang kamu beny, aku cinta kamu, i love you beny. tapi bibir tak sanggup berucap.
“jadi isyaratnya Cuma pegang tangan gini?” tanyanya membuyarkan lamunanku
Melepas tangan “ehm.. enggak, ehh gimanapun perasaan gak bisa diisyaratkan, kamu harus bilang”
“tapi bibir aku kelu ra, entah apa yang kurasa hatiku ingin bilang, aku sayang kamu anita, aku cinta kamu, i love you anita. tapi bibir tak sanggup berucap, ini kenapa ya ra?”
“kamu jatuh cinta” aku tersenyum simpul
“oya? apa semua orang jatuh cinta bakal seperti ini?”
Aku menatap matanya lekat “iya, seperti ini ben, persis sama”
“kamu pernah emang jatuh cinta?”
“pernah”
“apa? dan kamu nggak ngasih tau ke aku? fine”
“apaan sih”
“aku nggak mau tau, pokoknya hari ini juga aku mau kamu cerita siapa cowok yang udah buat kamu jatuh cinta itu..”
“seseorang”
“iya, siapa namanya?”
“hamba allah”
Lalu kami sama-sama tertawa lepas, aku melihat tawanya dengan begitu aku mengerti, jika dia bahagia, dia seperti malaikat.
“aku serius ra, siapa?”
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki
“ekhm..” terdengar suara perempuan yang begitu lembut
“eh.. kam..kamu…” kata beny dengan grogi karena wanita itu adalah anita.
“udah lama nunggunya?” kata anita
“hmm.. baru kok” kata beny dengan senyuman
“aku duluan deh ben, bye” kataku yang ternyata tidak direspon oleh beny karena sangking terpananya dia melihat anita berada di hadapannya
Setelah kejadian tersebut, aku dan beny benar-benar sangat jauh, kami jarang berkomunikasi, bahkan kabar mereka pacaran pun, aku tahu dari orang lain, dia tidak sedekat dulu kepadaku, malah makin jauh. tapi entah kenapa, semakin aku ngerasa dia sulit untuk ku gapai, semakin aku ngerasa perasaan itu tumbuh lebih lagi. Entah apa yang telah Tuhan gariskan ke takdir ku, sehingga aku harus meminta bantuan nya. waktu itu, aku sedang ada tugas kelompok di rumah ririn dan nggak ada yang bisa antar, kebetulan semua kendaraan lagi dipakai, entah kenapa aku terfikir untuk nelpon beny, lalu beny menyanggupi untuk menolong ku.
Beberapa menit kemudian beni tiba di rumahku dengan motor mio miliknya, aku sudah berencana ingin mengintrogasinya, mengapa dia sangat jauh sampai dia tidak bilang kalau dia udah pacaran dengan anita. aku lalu menghampirinya, lalu duduk di belakangnya di atas motor mio kesayangannya, tiba-tiba suara handphone berbunyi, ternyata handphone beny.
“halo? kamu kenapa sih? Apa? kok harus sekarang? oke-oke 10 menit lagi aku kesana, please tunggu ak.. halo..halo.. kok dimatiin sih?”
“siapa ben?”
“anita”
“ooh”
“ehm, ra kayaknya aku gak bisa ngantar kamu deh, aku ada masalah sama anita yang harus aku selesaikan sekarang, gak papa kan?”
Sumpah aku kecewa, aku pengen nangis, tapi aku harus tetap tegar. lalu aku turun dari honda mionya
“its oke, aku bisa minta tolong ke yang lain kok” padahal aku nggak tau harus minta tolong ke siapa lagi
“oke, sorry..”
Aku tersenyum lalu membalikkan badan lalu dia memegang tanganku dan menahan ku
“aku besok mau nebus kesalahan aku ke kamu. aku udah ngecewain kamu sobat, jadi besok kita makan di cafe bakso mataram dan aku traktir, jam 5 sore dan nggak ada kata tidak bisa atau tidak mau”
Aku terdiam, dia melepas tangan ku dan tersenyum lalu pergi dengan kecepatan tinggi, aku tidak mungkin menolak untuk menikmati hari bersamanya. aku kecewa padanya, tidak bisa kupungkiri tapi nyatanya dengan janji yang diucapkannya aku sudah melupakan semua rasa kecewa dan berubah menjadi rasa bahagia.
Aku menunggu detik-detik seperti ini, detik dimana aku menunggu pujaan ku datang. jam 5 tepat, aku sudah duduk di sebuah meja, dimana dulu kami pernah duduk disini ketika aku mentraktir dia karena aku ulang tahun. hari ini, aku memakai baju dari hasil seleksi semua baju dalam lemari, aku memakai baju warna merah tua, warna kesukaannya. aku ingin kelihatan sempurna di matanya.
30 menit berlalu dia belum datang juga, akhirnya aku mencoba menelfon tapi nomornya malah tidak aktif, aku mencoba bersabar, dengan penuh harap bahwa dia pasti datang.
2 jam berlalu, dia tidak datang. aku menunduk, betapa bodohnya aku, dan yang harus kulakukan kini hanya pergi dari tempat ini, dan berhenti berharap bahwa dia akan datang.
Sesampainya di rumah yang terjadi adalah apa yang harusnya terjadi, aku hanya menangis, penantianku hanya sia-sia, aku lupa aku siapa di mata beny, aku lupa beny hanya anggap aku sahabatnya, aku lupa beny sangat mencintai anita dan aku lupa bahwa sebenarnya beny sudah melupakanku dan tak membutuhkan kehadiranku lagi.
Keesokan harinya di sekolah, teman ku ririn bercerita bahwa beny mencariku di kelas namun karena aku datang terlambat jadi tidak sempat bertemu. pagi itu aku telat bangun, mataku bengkak dan sembab karena menangis sepanjang malam, alhasil aku terlambat datang ke sekolah. ternyata beny menemui ku ketika jam istirahat, dan aku menghindarinya
“ra.. tunggu.. kok kamu menghindari aku sih?”
Aku hanya diam, dan beni terus mengikutiku
“raa.. aku mau ngomong” lalu beny menarik tanganku
“lepasin, sakit tau”
“nggak mau, kamu kenapa sih? eh mata kamu kenapa bengkak gitu?”
“bukan urusan kamu” kataku lalu pergi
“apa sih kamu ra? kamu nggak nganggap aku lagi apa? aku ini sahabat kamu rara”
Aku lalu membalikkan badan menghadap dia dan mendekatinya “aku? ngaca bisa? Kalau kamu masih anggap aku sahabat, kamu nggak akan lupa kemarin di cafe bakso mataram jam 5 sore ada seorang wanita yang menunggumu 2 jam untukmu! untuk janjimu!” lalu aku pergi darinya, dari wajah penyesalan yang diperlihatnya.
Aku menangis, dan dia nggak pernah tau bagaimana sakitnya menjadi aku yang sangat mencintainya. belakang aku dengar bahwa di waktu yang sama ketika aku menunggu dia di cafe bakso mataram, ternyata dia sedang berenang bersama anita di labersa waterpark. dia nggak sadar jika dia membuat seorang wanita menunggunya 2 jam sendirian dengan sebuah harapan. dia nggak tau dan dia sampai sekarang nggak akan pernah tau, kalau aku, sahabatnya, sangat mencintai dia. dan walau selalu kecewa dalam penantian yang dilemparnya, aku akan tetap menanti, aku akan tetap mencintainya seperti aku mencintainya dari awal. walau dia nggak tau sampai selama-lamanya, aku akan tetap seperti ini, menangisi, mencintai, dan menantimu beny.

Jumat, 07 Maret 2014

fakta tentang - Artis Cantik: 'Anisa Rahma Adi'




1. Para personil Cherrybelle terbiasa menambahkan nama Chibi di belakang nama mereka. Namun, kini Anisa tidak lagi menggunakan nama tersebut. Termasuk di akun Twitternya yang kini menjadi @AnisaRahma_Adi.

2. Anisa memiliki sebuah tahi lalat besar dan berbulu di bagian dagu bawahnya. Wah, penasaran kan mau lihat tahi lalat berbulu Anisa? And, Anisa suka cowok berbulu lebat yang berdarah Timur Tengah.

3. Dahulu orang mengenalnya sebagai Anisa Chibi. Namun banyak orang yang sering salah tulis. Bukan hanya awak media yang sering salah menuliskan namanya, bahkan para fans juga sering salah menulis nama Anisa dengan Annisa atau Anissa. Apakah kamu juga pernah salah tulis?

4. Anisa merupakan peserta audisi ke-5 yang lolos audisi setelah Cherly, Ryn, Angel dan Wenda--yang baru saja menikah dengan presenter Ruben Onsu.

5. Mahasiswi Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung jurusan Arsitektur ini sangat mengidolakan Michael Jackson. Selain itu, musik Anisa banyak dipengaruhi oleh artis-artis K-Pop seperti Taeyang, Big Bang dan SNSD.

6. Anisa merupakan satu-satunya personil Cherrybelle yang memiliki follower Twitter dengan jumlah terbanyak, yakni sejumlah 1.259.502 hingga hari ini.

7. Anak bungsu dari empat bersaudara ini sangat suka dengan tokoh kucing Garfield sampai-sampai Anisa pernah minum susu kucing langsung dari puting sang kucing. Anisa juga punya dua kucing laki-laki bernama Chucky dan Chibo.

8. Sebelum menjadi penyanyi, Anisa mengawali karier sebagai seorang model. Gadis kelahiran 12 Oktober 1990 ini juga pernah menjadi model video klip sebuah band bernama Luiggi.

9.Anisa Rahma sering dikabarkan dekat dengan beberapa selebriti cowok, seperti Ryan d'Masiv dan mantan kekasih Ardina Rasti, Eza Gionino. Namun Anisa mengatakan bahwa mereka hanya berteman.

10. Anisa merupakan anak bungsu dari empat bersaudara yang semuanya adalah perempuan. FYI, Anisa pernah menjadi Ketua OSIS semasa bersekolah di SMA 1 Negeri Bandung

Read more: http://urfanismail.blogspot.com/2013/11/fakta-seputar-anisa-rahma-adi-ex-anisa_3.html#ixzz2vLIRdTIe

cerita tentang pinokio dalam bahasa inggris

6. Pinocchio And the wicked witch
 In a large pine forest in the country Italy , lonely . He always dreamed about having a child . Every day , he went to cut wood for the city people . One day , an idea illuminated his mind , the idea of crafting a puppet , that he would give the name of Pinocchio . He made the doll and at night , the puppet come to life ! One year of happiness and thriller passed , on Sunday morning , Gepetto told Pinocchio : it's my birthday soon , my little boy ! I hope you do not forget it ! Euuh , sure , I'm not ! Pinocchio felt awkward .

 He did not think about it . Gepettos birthday comes just three days ahead, and he had not prepared a gift . After a long night of reflecting , Pinocchio finally decided to offer a homemade chocolate cake to her as a gift . When the sun rose, Pinocchio was ready to go outside find the ingredients . The main problem was not even known he was in and the recipe .

 So after school , he decided to go ask someone for the ingredients to bake a cake . During his walk , Pinocchio , the wooden puppet , met shamans city . Hey , little boy , do you need help for your chocolate cake ? Hum You can help me ? , Tanya Pinocchio . Sure , I could . Follow me ! After walking a few minutes so , Pinocchio saw big , big , big huge candy house . They entered together and Pinocchio was caught by a large enclosure . Mouahahaha ! I was finally able to catch you ! you be mine , you will work for me ! , Said the evil witch .

  Pinocchio was terrified . When the guards came and took him out of the cage , he immediately ran very fast and he managed to escape . At the same time, the evil wizard , summoned all his troops with him , ran after him and he pulled out his wand . Evil devil changed the little wooden puppet into a chocolate cake ! When he returned home , he told the whole story to his father and they went to find a fairy god . After a long journey , they finally found the fairy god and they had a magic potion for Pinocchio , Pinocchio to treat the poor




Rabu, 05 Maret 2014

Kenangan yang membekas

Hari ini, hari yang telah kami sepakati, meskipun diriku tahu, bahwa hanya akulah yang akan menepati janji kami, meskipun begitu, aku tahu bahwa engkau masih mengingat janji itu, aku tahu.
Dini hari, ku berjalan menuju tempat yang telah kita sepakati, dengan perlahan, saat-saat kita berjumpa mulai muncul sedikit demi sedikit dalam benakku, aku ingat dengan pasti, tanggal, hari, waktu dan tempat kejadiannya. 8 tahun yang lalu, disaat umur kita 10 tahun, engkau datang ke depan pintu rumahku, bersama ibumu dengan membawa sekotak kue di kedua tanganmu, ibumu memberitahu ibuku tentang sesuatu, hanyalah kata, “pindah,” yang bisa kuingat, begitu lugunya diriku saat itu, aku tidak tahu apa yang sedang ibu kita lakukan, dengan mata yang berbinar-binar, engkau melihat ke arahku, tepatnya ke arah mainan yang sedang kugenggam, entah mengapa ketika mengingatnya membuatku sedikit geli. Aku berhenti sejenak melihat ke langit, matahari belum terbit, tentu saja, ini masih sangat pagi. Aku melihat ke belakang, berharap engkau mengikutiku, seperti dulu sekali, tapi itu hanya harapan.
Aku, sendirian, benar-benar keadaan yang sangat berbeda, padahal dulu kita selalu berdua, sungguh menyedihkan. Aku berjalan dengan berbagai pertanyaan dalam benakku, mengapa engkau begitu antusias dengan berbagai hal? Apa yang membuat dirimu penasaran? Ingatan perlahan muncul dengan sendirinya, saat hari pertamamu di sekolah, kita satu kelas, sungguh keajaiban, di hari pertamamu, engkau sudah menjadi pusat perhatian, dengan berbagai pertanyaan yang aneh.
“keke…” tanpa kusadari aku terkekeh. Dengan sendirinya terasa beban yang sangat berat muncul dalam benakku, janji itu, apa engkau masih mengingatnya? Itu sudah sangat lama, dengan sendirinya, kakiku berhenti melangkah, aku memandang langit, cahaya matahari telah muncul, aku berlari, dalam benakku, antara optimis dan kekecewaan telah kuredam, lagipula siapa yang peduli dia masih ingat atau tidak, air mata menetes dengan sendirinya mengaliri wajahku, aku tak bisa menahan beban ini, terlalu menyedihkan.
Akhirnya, aku sampai, di tempat kita berjanji, sambil melihat sang surya dengan berani menunjukkan dirinya, pagi hari, tepat tanggal 22 maret, hari ulang tahunku, sekaligus hari dimana kita bertemu, di tempat kenangan, alangkah bagusnya jika engkau ada disini, kawanku, sahabatku, cinta pertamaku.
Dibalik pohon muncul sosok seorang laki-laki, membawa kado di genggamannya, berjalan tepat berada di depanku, engkau muncul, dengan senyuman yang menyebalkan terpapar di atas wajahmu, aku tak percaya, engkau ada disini, aku benar-benar tidak menyangka.
“aku benar-benar membencimu, bodoh, aku benar-benar menyayangimu,” ucapku tanpa sadar, dengan air mata yang mengalir dengan deras, membasahi wajahku.

Selasa, 04 Maret 2014

Syukur ISLAM - Keislaman Pemahaman dan Tafsir Al-Quran

Kata "syukur" adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan lega, senang, dan sebagainya). 

Pengertian kebahasaan ini tidak sepenuhnya sama dengan pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan. 

Dalam Al-Quran kata "syukur" dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar dari kata tersebut yaitu, 

a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.
Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini (syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan. 

b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat. 

c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit). 

d. Pernikahan, atau alat kelamin.
 

Agaknya kedua makna terakhir ini dapat dikembalikan dasar pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Makna ketiga sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat dengan makna kedua, karena dengan pernikahan (alat kelamin) dapat melahirkan banyak anak. 

Makna-makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur" mengisyaratkan "Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur." 

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan." Kata ini --tulis Ar-Raghib-- menurut sementara ulama berasal dari kata "syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya. 

Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7: 

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. (QS lbrahim (14): 7)


Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran: 

Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).

Hakikat syukur adalah "menampakkan nikmat," dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah: 

Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).

Nabi Muhammad saw pun bersabda: "Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)". Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah,
"Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (QS Al-Baqarah [2]: 152)

Menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu, ketika setan menyatakan bahwa, "Demi kemuliaan-Mu, Aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya" (QS Shad [38]: 82), dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, "kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka" (QS Shad [38]: 83). Dalam QS Al-A'raf (7): 17 Iblis menyatakan, "Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia) bersyukur." Kalimat "tidak akan menemukan" di sini serupa maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang mukhlish (tulus hatinya). 

Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi: 

a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas anugerah. 
b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. 
c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.
 

Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian banyak aspek. Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya. 


SIAPA YANG HARUS DISYUKURI
Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran harus ditujukan kepada Allah SWT Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya, 

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan: 
Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri."

Namun demikian, walaupun kesyukuran harus ditujukan kepada Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah "alhamdulillah" dalam arti "segala puji (hanya) tertuju kepada Allah," namun ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang tua (yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas dunia ini.) Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu dengan firman-Nya: 

Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.

Walaupun Al-Quran hanya menyebut kedua orangtua --selain Allah-- yang harus disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak boleh disyukuri.
Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu riwayat yang disandarkan kepada Rasul Saw). 


MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN
Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali kepada orang yang bersyukur, sedang Allah SWT sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari syukur makhluk-Nya. 

Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)

Karena itu pula, manusia yang meneladani Tuhan dalam sifat-sifat-Nya, dan mencapai peringkat terpuji, adalah yang memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang diberi) atau ucapan terima kasih. 

Al-Quran melukiskan bagaimana satu keluarga (menurut riwayat adalah Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fathimah putri Rasulullah saw) memberikan makanan yang mereka rencanakan menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga orang yang membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa, 

Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).

Walaupun manfaat syukur tidak sedikit pun tertuju kepada Allah, namun karena kemurahan-Nya, Dia menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun 'Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan Syakiran Alima (QS An-Nisa' [4]: 147), yang keduanya berarti, Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui, dalam arti Allah akan menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain dijelaskan oleh firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.

BAGAIMANA CARA BERSYUKUR
Di atas telah dijelaskan bahwa ada tiga sisi dari syukur, yaitu dengan hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut. 


a. Syukur dengan hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan, dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian kepada-Nya. Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam surat Al-Qashash (28): 76-82). 

Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu, tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi. Dari sini syukur --seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip di atas-- diartikan oleh orang yang bersyukur dengan "untung" (merasa lega, karena yang dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi). 

Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang akan tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada Allah. 

Sujud syukur adalah perwujudan dari kesyukuran dengan hati, yang dilakukan saat hati dan pikiran menyadari betapa besar nikmat yang dianugerahkan Allah. Bahkan sujud syukur dapat dilakukan saat melihat penderitaan orang lain dengan membandingkan keadaannya dengan keadaan orang yang sujud. (Tentu saja sujud tersebut tidak dilakukan dihadapan si penderita itu). 

Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua anggota sujud di lantai yakni dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua ujung jari kaki)--seperti melakukan sujud dalam shalat. Hanya saja sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu bukan bagian dan shalat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan sewaktu-waktu dan secara spontanitas. Namun tentunya akan sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu. 


b. Syukur dengan lidah
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya. 
Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi "al-hamdulillah." 
Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun kepada yang lain. 

Kata "al" pada "al-hamdulillah" oleh pakar-pakar bahasa disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti "keseluruhan". Sehingga kata "al-hamdu" yang ditujukan kepada Allah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala pujian adalah Allah SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. 

Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah, maka itu berarti pada saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus dikembalikan kepada Allah SWT, sebab kecantikan dan kebaikan itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada lahirnya ada perbuatan atau ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kacamata manusia dinilai "kurang baik", maka harus disadari bahwa penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur dengan lidah adalah "al- hamdulillah" (segala puji bagi Allah). 


c. Syukur dengan perbuatan
Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga Allah berpesan, 

Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS Saba [34]: 13).

Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahannya. 
Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh Allah. Ambillah sebagai contoh lautan yang diciptakan oleh Allah SWT Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan penciptaannya melalui firman-Nya: 

Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untuk kamu) agar kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan (agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).

Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga mensyukuri nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta menuntut pula untuk menciptakan kapal-kapal yang dapat mengarunginya, bahkan aneka pemanfaatan yang dicakup oleh kalimat "mencari karunia-~Nya". 
Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah, 

Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)

Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia? 
Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa "Kalau kamu kufur (tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak menampakkan nikmatnya yang masih terpendam di perut bumi, di dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih." 

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat ini adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi tegas dan bersumber dari-Nya langsung (QS Ibrahim [14):7) Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).

Siksa dimaksud antara lain adalah rasa lapar, cemas, dan takut. 

Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS An-Nahl [16]: 112).

Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi terhadap sekian banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum Saba --satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka, yakni satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya, melimpah ruah rezekinya dan subur tanah airnya. Negeri merekalah yang dilukiskan oleh Al-Quran dengan baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah yang diperintah dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka berserak-serakkan, tanahnya berubah menjadi gersang, komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang tadinya lancar menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah bibir orang saja. Demikian uraian Al-Quran. Dalam konteks keadaan mereka, Allah berfirman, 

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).

Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer: 

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih (QS Ibrahim [14]: ayat 7).

KEMAMPUAN MANUSIA BERSYUKUR
Pada hakikatnya manusia tidak mampu untuk mensyukuri Allah secara sempurna, baik dalam bentuk kalimat-kalimat pujian apalagi dalam bentuk perbuatan. Karena itu ditemukan dua ayat dalam Al-Quran yang menunjukkan betapa orang-orang yang dekat kepada-Nya sekalipun, tetap bermohon agar dibimbing, diilhami dan diberi kemampuan untuk dapat mensyukuri nikmat-Nya. 

Dia berdoa, "Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai..." (QS An-Naml [27]: 19).

Ia berdoa, "Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang engkau ridhai" (QS Al-Ahqaf [46]: 15).

Nabi saw juga berdoa dan mengajarkan doa itu untuk dipanjatkan oleh umatnya : "Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu."
Permohonan tersebut sangat diperlukan, paling tidak disebabkan oleh dua hal: 

Pertama, manusia tidak mampu mengetahui bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk memuji Allah, dan karena itu pula Allah mewahyukan kepada manusia pilihan-Nya kalimat yang sewajarnya mereka ucapkan. Tidak kurang dari lima kali ditemukan dalam Al-Quran perintah Allah yang berbunyi. Wa qul' "Alhamdulillah" (Katakanlah, "Alhamdulillah"). 

Mengapa manusia tidak mampu untuk memuji-Nya? Ini disebabkan karena pujian yang benar menuntut pengetahuan yang benar pula tentang siapa yang dipuji. Tetapi karena pengetahuan manusia tidak mungkin menjangkau hakikat Allah SWT, maka tidak mungkin pula ia akan mampu memuja dan me~nuji-Nya dengan benar sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. 

Mahasuci Engkau, Kami tidak mampu melukiskan pujian untuk-Mu, karena itu (pujian) kami sebagaimana pujian-Mu terhadap diri-Mu. 
Atas dasar ini, maka seringkali pujian yang dipersembahkan kepada Allah, didahului oleh kata "Subhana" atau yang seakar dengan kata itu. Perhatikanlah firman-Nya dalam surat Asy-Syura ayat 5: 

Para malaikat bertasbih sambil memuji Tuhan mereka. 
Atau dalam surat Ar-Ra'd (13): 13: "Guntur bertasbih sambil memuji-Nya."

Bahkan manusia pun di dalam shalat mendahulukan "tasbih" (pensucian Tuhan dari segala kekurangan) atas "hamd" (pujian), karena khawatir jangan sampai pujian yang diucapkan itu tak sesuai dengan keagungan-Nya. "Subhana Rabbiyal 'Azhim wa bi hamdihi" ketika rukuk, dan "Subhana Rabbiyal 'Ala wa bi hamdihi" ketika sujud. 

Alasan kedua mengapa kita memohon petunjuk-Nya untuk bersyukur adalah karena setan selalu menggoda manusia yang targetnya antara lain adalah mengalihkan mereka dari bersyukur kepada Allah. Surat Al-A'raf ayat 17 menguraikan sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda dan merayu manusia dari arah depan, belakang, kiri, dan kanan mereka sehingga akhirnya seperti ucap setan yang diabadikan Al-Quran "Engkau -(Wahai Allah)- tidak menemukan kebanyakan mereka bersyukur". 

Sedikitnya makhluk Allah yang pandai bersyukur ditegaskan berkali-kali oleh Al-Quran, secara langsung oleh Allah sendiri seperti firman-Nya: 

Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 243).

Dalam ayat lain disebutkan: 

Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (QS Saba' [34]: 13) .

Hakikat yang sama diakui pula oleh hamba-hamba pilihan-Nya seperti yang diabadikan Al-Quran dari ucapan Nabi Yusuf a.s., 

Kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]: 38).

Hakikat di atas tercermin juga dari penggunaan kata syukur sebagai sifat dari hamba Allah. Hanya dua orang dari mereka yang disebut oleh Al-Quran sebagai hamba Allah yang telah membudaya dalam dirinya sifat syukur, yaitu Nabi Nuh a.s. yang dinyatakan-Nya sebagai "Innahu kanna 'abdan syakura" (Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur) (QS Al-Isra' [17]: 3), dan Nabi Ibrahim a.s. dengan firman-Nya, "Syakiran li an'umihi" (yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah) (QS An-Nahl [16): 12l). 

Al-Quran menggarisbawahi bahwa biasanya kebanyakan manusia hanya berjanji untuk bersyukur saat mereka menghadapi kesulitan. Al-Quran menjelaskan sikap sementara orang yang menghadapi gelombang yang dahsyat di laut:. 

Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengihlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, maka pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur" (QS Yunus 110]: 22).

Demikian juga dalam surat Al-An'am (6): 63. 

Katakanlah, "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan berendah dri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi bagian orang-orang yang bersyukur" (QS Al-An'am [6]: 63).

APA YANG HARUS DISYUKURI
Pada dasarnya segala nikmat yang diperoleh manusia harus disyukurinya. Nikmat diartikan oleh sementara ulama sebagai "segala sesuatu yang berlebih dari modal Anda". Adakah manusia memiliki sesuatu sebagai modal? Jawabannya, "Tidak". Bukankah hidupnya sendiri adalah anugerah dari Allah? 

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS Al-Insan [76]: ayat 1).

Nikmat Allah demikian berlimpah ruah, sehingga Al-Quran menyatakan, 

Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS Ibrahim [14]: 34).

Al-Biqa'i dalam tafsirnya terhadap surat Al-Fatihah mengemukakan bahwa "al-hamdulillah" dalam surat Al-Fatihah menggambarkan segala anugerah Tuhan yang dapat dinikmati oleh makhluk, khususnya manusia. Itulah sebabnya --tulisnya lebih jauh-- empat surat lain yang juga dimulai dengan al-hamdulillah masing-masing menggambarkan kelompok nikmat Tuhan, sekaligus merupakan perincian dari kandungan nikmat yang dicakup oleh kalimat al-hamdulillah dalam surat Al-Fatihah itu. Karena Al-Fatihah adalah induk Al-Quran dan kandungan ayat-ayatnya dirinci oleh ayat-ayat lain. 

Keempat surat yang dimaksud adalah: 

1. Al-An'am (surat ke-6) yang dimulai dengan: "Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang".

Ayat ini mengisyaratkan nikmat wujud di dunia ini dengan segala potensi yang dianugerahkan Allah baik di darat, laut, maupun udara, serta gelap dan terang. 

2. Al-Kahf (surat ke-18), yang dimulai dengan: "Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran), dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya".

Di sini diisyaratkan nikmat-nikmat pemeliharaan Tuhan yang dianugerahkannya secara aktual di dunia ini. Disebut pula nikmat-Nya yang terbesar yaitu kehadiran Al-Quran di tengah-tengah umat manusia, untuk "mewakili" nikmat-nikmat pemeliharaan lainnya. 

3. Saba' (surat ke-34), yang dimulai dengan" "Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya pula segala puji di akhirat. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetabui".

Ayat ini mengisyaratkan nikmat Tuhan di akhirat kelak, yakni kehidupan baru setelah mengalami kematian di dunia, di mana dengan kehadirannya di sana manusia dapat memperoleh kenikmatan abadi. 

4. Fathir (surat ke-35), yang dimulai dengan: "Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat), yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat".

Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang akan dianugerahkan Allah kelak setelah mengalami hidup baru di akhirat. 

Setiap rincian yang terdapat dalam keempat kelompok nikmat yang dicakup oleh keempat surat di atas, menuntut syukur hamba-Nya baik dalam bentuk ucapan al-hamdulillah, maupun pengakuan secara tulus dari lubuk hati, serta mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya. 

Di atas dikemukakan secara global nikmat-nikmat-Nya yang mengharuskan adanya syukur. Dalam beberapa ayat lainnya disebut sekian banyak nikmat secara eksplisit, antara lain: 

1. Kehidupan dan kematian 

Bagaimana kamu mengkufuri (tidak mensyukuri nikmat) Allah, padahal tadinya kamu tiada, lalu kamu dihidupkan, kemudian kamu dimatikan, lalu dihidupkan kembali. (QS Al-Baqarah [2]: 28).

2. Hidayat Allah 

Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 185).

3. Pengampunan-Nya, antara lain dalam firman-Nya. 

Kemudian setelah itu Kami maafkan kesalahanmu agar kamu bersyukur (QS Al-Baqarah [2]: 52)

4. Pancaindera dan akal 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 78).

5. Rezeki 

Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu bersyukur (QS Al-Anfal [8]: 26).

6. Sarana dan prasarana antara lain 

Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14) .

7. Kemerdekaan 

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka (bebas dari penindasan Fir'aun) (QS Al-Maidah [5]: 20)

Masih banyak lagi nikmat-nikmat lain yang secara eksplisit disebut oleh Al-Quran. Dalam surat Ar-Rahman (surat ke-55), Al-Quran membicarakan aneka nikmat Allah dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan. Quran mengulangi satu pertanyaan dengan redaksi yang sama yaitu, 

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?

Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali. Para ulama menyusun semacam "rumus", yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka ia akan selamat dari ketujuh pintu neraka, sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga pertama maupun surga kedua, baik Surga (kenikmatan duniawi) maupun kenikmatan ukhrawi. 


WAKTU DAN TEMPAT BERSYUKUR
Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (QS Saba' [34]: l).

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT harus disyukuri, baik dalam kehidupan dunia sekarang maupun di akhirat kelak. Salah satu ucapan syukur di akhirat adalah dari mereka yang masuk surga yang berkata, 

Al-hamdulillah --segala puji bagi Allah-- yang memberi petunjuk bagi kami (masuk ke surga ini). Kami tidak memperoleh petunjuk ini, seandainya Allah tidak memberikan kami petunjuk (QS Al-A'raf [7]: 43).

Demikian terlihat bahwa syukur dilakukan kapan dan di mana saja di dunia dan di akhirat. 

Dalam konteks syukur dalam kehidupan dunia ini, Al-Quran menegaskan bahwa Allah SWT menjadikan malam silih berganti dengan siang, agar manusia dapat menggunakan waktu tersebut untuk merenung dan bersyukur, "Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti, bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur (QS Al-Furqan [25]: 62).

Dalam surat Ar-Rum (30): 17-18 Allah memerintahkan, 

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari, dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan ketika kamu berada di waktu zuhur.

Segala aktivitas manusia --siang dan malam-- hendaknya merupakan manifestasi dari syukurnya. Syukur dengan lidah dituntut saat seseorang merasakan adanya nikmat Ilahi. Itu sebabnya Nabi saw tidak jemu-jemunya mengucapkan, "Alhamdulillah" pada setiap situasi dan kondisi. 

Saat bangun tidur beliau mengucapkan : "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan (membangunkan) kami, setelah mematikan (menidurkan) kami dan kepada-Nya-lah (kelak) kebangkitan". 

Atau membaca : "Segala puji bagi Allah yang mengembalikan kepadaku ruhku, memberi afiat kepada badanku, dan mengizinkan aku mengingat-Nya. 

Ketika bangun untuk ber-tahajjud beliau membaca: "Wahai Allah, bagimu segala pujian. Engkau adalah pengatur langit dan bumi dan segala isinya. Bagimu segala puji, Engkau adalah pemilik kerajaan langit dan bumi dan segala isinya ...". 

Ketika berpakaian beliau membaca: "Segala puji bagi Allah yang menyandangiku dengan (pakaian) ini, menganugerahkannya kepadaku tanpa kemampuan dan kekuatan (dari diriku)". 

Sesudah makan beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan memberi kami minum dan menjadikan kami (kaum) Muslim". 

Ketika akan tidur, beliau berdoa: "Dengan namamu Ya Allah aku hidup dan mati. Wahai Allah, bafli-Mu segala puji, Engkau Pemelihara langit dan bumi". 

Demikian seterusnya pada setiap saat, dalam berbagai situasi dan kondisi. 

Apabila seseorang sering mengucapkan al-hamdulillah, maka dari saat ke saat ia akan selalu merasa berada dalam curahan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Dia akan merasa bahwa Tuhan tidak membiarkannya sendiri. Jika kesadaran ini telah berbekas dalam jiwanya, maka seandainya pada suatu, saat ia mendapat cobaan atau merasakan kepahitan, dia pun akan mengucapkan : "Segala puji bagi Allah, tiada yang dipuja dan dipuji walau cobaan menimpa, kecuali Dia semata". 

Kalimat semacam ini terlontar, karena ketika itu dia sadar bahwa seandainya apa yang dirasakan itu benar-benar mempakan malapetaka, namun limpahan karunia-Nya sudah sedemikian banyak, sehingga cobaan dan malapetaka itu tidak lagi berarti dibandingkan dengan besar dan banyaknya karunia selama ini. 
Di samping itu akan terlintas pula dalam pikirannya, bahwa pasti ada hikmah di belakang cobaan itu, karena Semua perbuatan Tuhan senantiasa mulia lagi terpuji. 


SIAPA YANG DISYUKURI ALLAH
Al-Quran juga berbicara menyangkut siapa dan bagaimana upaya yang harus dilakukan sehingga wajar disyukuri. Dua kali kata masykur dalam arti yang disyukuri terulang dalam Al-Quran.
Pertama adalah,
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri (dibalas dengan baik). Kepada masing-masing golongan baik yang ini (menghendaki dunia saja) maupun yanp itu (yang menghendaki akhirat melalui usaha duniawi), Kami berikan bantuan dari kemewahan Kami. Dari kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi (QS Al-Isra' [17]: 18-20).

Kedua adalah:
Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (QS Al-Insan [76]: 22).

Isyarat "ini" dalam ayat di atas adalah berbagai kenikmatan surgawi yang dijelaskan oleh ayat-ayat sebelumnya, dari ayat 12 sampai dengan ayat 22 surat 76 (Al-Insan). 

Surat Al-Isra' ayat 17-20 berbicara tentang dua macam usaha yang lahir dari dua macam visi manusia. Ada yang visinya terbatas pada "kehidupan sekarang", yakni selama hidup di dunia ini, tidak memandang jauh ke depan. "Kehidupan sekarang" diartikan detik dan jam atau hari dekat hidupnya, boleh jadi juga "sekarang" berarti masa hidupnya di dunia yang mengantarkannya bervisi hanya puluhan tahun. Ayat di atas menjanjikan bahwa jika mereka berusaha akan memperoleh sukses sesuai dengan usahanya; itu pun bila dikehendaki Allah. Tetapi setelah itu mereka akan merasa jenuh dan mandek, karena keterbatasan visi tidak lagi mendorongnya untuk berkreasi. Nah, ketika itulah lahir rutinitas yang pada akhirnya melahirkan kehancuran. 

Hakikat ini bisa terjadi pada tingkat perorangan atau masyarakat. Kejenuhan dengan segala dampak negatif yang dialami oleh anggota masyarakat bahkan masyarakat secara umum di dunia yang menganut paham sekularisme --setelah mereka mencapai sukses duniawi-- merupakan bukti nyata dari kebenaran hakikat yang diungkapkan Al-Quran di atas. Tetapi jika pandangan kita jauh ke depan, visi seseorang atau masyarakat melampaui kehidupan dunianya, maka ia tidak pernah akan berhenti-bagai seseorang yang menggantungkan cita-citanya melampaui ketinggian bintang. Ketika itu dia akan terus berusaha dan berkreasi, sehingga tidak pernah merasakan kejenuhan, karena di balik satu sukses masih dapat diraih sukses berikutnya. Memang Allah menjajikan untuk terus-menerus dan sementara menambah petunjuk-Nya bagi mereka yang telah mendapat petunjuk. 

Dan Allah sementara menambah petunjuk-Nya bagi orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Maryam [19]: 76).

Orang yang demikian itulah yang semua usahanya disyukuri Allah. Mereka yang disyukuri itu akan memperoleh surga sebagaimana dilukiskan oleh kata masykur pada ayat kedua yang menggunakan kata ini, yakni surat Al-Insan ayat 22. 

Demikian sekelumit uraian Al-Quran tentang syukur. Kalaulah kita tidak mampu untuk masuk dalam kelompok minoritas --orang-orang yang pandai bersyukur (atau dalam istilah Al-Quran asy-syakirun, yakni orang-orang yang telah mendarah daging dalam dirinya hakikat syukur dalam ketiga sisinya: hati, lidah, dan perbuatan)-- maka paling tidak kita tetap harus berusaha sekuat kemampuan untuk menjadi orang yang melakukan syukur --atau dalam istilah Al-Quran yasykurun-- betapapun kecilnya syukur itu. Karena seperti bunyi sebuah kaidah keagamaan, 

Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan sama sekali.