Hening malam membuat seorang gadis tertidur di meja belajarnya. Keheningan itu terpecahkan oleh suara rintikan air hujan yang semakin deras. Tetesan air hujan yang jatuh di leher gadis itu, membuatnya terbangun tanpa kata. Perlahan ia melangkahkan kaki mencari mangkuk plastik dan meletakkannya di bawah tetesan air hujan itu. Buku tulisnya yang bergambar boneka beruang masih terbuka di atas meja belajar yang berantakan. Melihat keadaan itu buku-buku dirapikannya. Setelah terlihat rapi, gadis itu melanjutkan tidurnya di tempat tidur dan bermimpi menjadi orang sukses serta penuh rasa tanggung jawab.
Pukul 04.00, weker gadis itu berbunyi. Gadis yang bernama Lyra meninggalkan mimpinya dan langsung membuka buku pelajaran yang ada pada jadwal di hari itu. Mangkuk yang ia letakkan semalam di atas meja belajarnya sudah terisi penuh dengan air hujan. Tak seperti hari-hari biasanya Lyra belum mengerjakan tugas membuat 5 pantun yang harus dikumpulkannya siang nanti. Dengan tergesa-gesa ia mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesianya.
Tak terasa matahari mulai menyapa pagi hari. Lyra langsung dengan sigap menyiapkan segala hal yang ia butuhkan untuk pergi sekolah. Matahari sudah menampakkan seluruh sinarnya, Lyra cepat-cepat mengambil sepedanya. Perasaanya mulai bimbang, takut terlambat dan tidak boleh masuk ke dalam kelas. Untung saja ia belum terlambat masuk ke dalam kelas. Banyak teman-teman sekelaasnya yang bertanya-tanya karena tidak biasanya Lyra berangkat saat matahari sudah menampakkan seluruh sinarnya.
“Lyra, tumben kamu baru berangkat jam segini? Biasanya ayam jantan belum berkokok saja kamu sudah sampai di sekolah, walaupun kamu masih nungguin pintunya dibuka,” ucap Rina teman sebangkunya.
“Ah, bisa aja kamu Rin. Biasanya aku berangkat enggak sepagi itu kalau hari ini sih aku memang kesiangan. Eiittss, tapi jangan salah maksudku bukan kesiangan bangun tidurnya, tapi kesiangan ngerjain tugas dari Bu Ira yang disuruh buat pantun itu. Soalnya aku lupa,” kata Lyra.
“Iya, aku udah tahu kalau soal itu. Kamu itu anak yang rajin dan cerdas, tapi enggak biasanya kamu lupa ngerjain tugas,” balas Rina mengernyitkan jidat.
“Emm, aku juga enggak tahu nih. Akhir-akhir ini aku sering lupa gitu. Mungkin faktor usia kali, kemarin aku habis ulang tahun. Hehehe,” canda Lyra kepada Rina.
Suara lonceng berbunyi nyaring mengakhiri pembicaraan kedua gadis itu dan menandakan pelajaran pertama akan dimulai.
“Lyra, tumben kamu baru berangkat jam segini? Biasanya ayam jantan belum berkokok saja kamu sudah sampai di sekolah, walaupun kamu masih nungguin pintunya dibuka,” ucap Rina teman sebangkunya.
“Ah, bisa aja kamu Rin. Biasanya aku berangkat enggak sepagi itu kalau hari ini sih aku memang kesiangan. Eiittss, tapi jangan salah maksudku bukan kesiangan bangun tidurnya, tapi kesiangan ngerjain tugas dari Bu Ira yang disuruh buat pantun itu. Soalnya aku lupa,” kata Lyra.
“Iya, aku udah tahu kalau soal itu. Kamu itu anak yang rajin dan cerdas, tapi enggak biasanya kamu lupa ngerjain tugas,” balas Rina mengernyitkan jidat.
“Emm, aku juga enggak tahu nih. Akhir-akhir ini aku sering lupa gitu. Mungkin faktor usia kali, kemarin aku habis ulang tahun. Hehehe,” canda Lyra kepada Rina.
Suara lonceng berbunyi nyaring mengakhiri pembicaraan kedua gadis itu dan menandakan pelajaran pertama akan dimulai.
Pelajaran pertama di pagi yang cerah itu adalah Bahasa Indonesia, sehingga kelas 8A harus mengumpulkan tugas masing-masing. Kemudian Bu Ira datang dengan wajah berseri-seri.
“Banyak kendi di dalam kotak. Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Ira dengan wajah gembira.
“Selamat pagi, Bu!” jawab murid-murid serempak.
“Berlari-lari tikus diracun. Racunnya ada digalian. Kita akan belajar berpantun. Kumpulkan tugas kalian!” perintah Bu Ira dengan berpantun.
“Banyak kendi di dalam kotak. Selamat pagi anak-anak!” sapa Bu Ira dengan wajah gembira.
“Selamat pagi, Bu!” jawab murid-murid serempak.
“Berlari-lari tikus diracun. Racunnya ada digalian. Kita akan belajar berpantun. Kumpulkan tugas kalian!” perintah Bu Ira dengan berpantun.
Jam pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pun berlalu. Lonceng berbunyi menandakan jam sekolah sudah habis dan menandakan saatnya pulang. Lyra pulang menaiki sepeda mininya dan mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya. Sampai perkampungan di sekitar rumahnya Lyra selalu tersenyum dan menyapa orang-orang yang ada di luar rumah. Semua orang yang mengenalnya juga membalasnya dengan senyuman dan ada yang meminta Lyra untuk mampir ke salah satu rumah tetangganya itu, namun ia menolak karena takut dimarahi Ibu kalau tidak pulang tepat waktu. Memang Lyra dikenal di lingkungannya sebagai pribadi yang baik dan ramah, akan tetapi penilaian setiap orang itu berbeda-beda.
Sesampainya di rumah, Lyra berganti pakaian. Kemudian melempar tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Tiba-tiba Ibu datang dan berteriak.
“Lyra, Ibu minta tolong lantai rumahnya disapu ya! Tadi pagi, Ibu belum sempat menyapu lantai,” perintah Ibu.
“Bu, Lyra capek. Lyra mau tidur siang dulu. Aku ngantuk tadi seharian di sekolah mulu. Lagian Ibu dari tadi di rumah biasanya Ibu yang menyapu lantainya,” tolak Lyra pelan.
“Ibu malah lebih capek. Seharian buatin makan buat kamu. Belum lagi ngurusin adik kamu yang masih kecil. Kamu di sekolah cuma duduk dan belajar, sedangkan Ibu bekerja mengurusi rumah tangga. Masa kamu tidak mau cuma disuruh menyapu lantai saja?” sanggah Ibu.
“Bu Lyra benar-benar capek. Belum lagi tugas-tugas yang belum Lyra kerjakan itu banyak. Terus nanti sore aku punya tanggung jawab untuk mengajar TPA,” tolak Lyra untuk yang kedua kalinya.
“Lalu mana tanggung jawab kamu sebagai anak Ibu? Tanggung jawab kamu untuk membantu Ibu dan mengasuh adikmu. Tugas di sekolah memang harus diselesaikan, tapi kamu harus dapat membagi waktu dengan tugas rumah, yaitu tanggung jawab kamu sebagai seorang anak. Mana Lyra yang dulu? Lyra yang selalu membantu Ibu. Lyra yang selalu Ikhlas dan bersemangat dalam hal apapun dan tidak seperti ini. Sekarang kamu cepat lelah dan ngeyel,” kata Ibu dengan sedikit marah.
Ibu langsung meninggalkan Lyra yang wajahnya mulai memerah. Namun, Lyra menghiraukan perkataan Ibunya dan ia pun tidur siang tanpa mengingat sepatah kata apapun dari Ibunya.
“Lyra, Ibu minta tolong lantai rumahnya disapu ya! Tadi pagi, Ibu belum sempat menyapu lantai,” perintah Ibu.
“Bu, Lyra capek. Lyra mau tidur siang dulu. Aku ngantuk tadi seharian di sekolah mulu. Lagian Ibu dari tadi di rumah biasanya Ibu yang menyapu lantainya,” tolak Lyra pelan.
“Ibu malah lebih capek. Seharian buatin makan buat kamu. Belum lagi ngurusin adik kamu yang masih kecil. Kamu di sekolah cuma duduk dan belajar, sedangkan Ibu bekerja mengurusi rumah tangga. Masa kamu tidak mau cuma disuruh menyapu lantai saja?” sanggah Ibu.
“Bu Lyra benar-benar capek. Belum lagi tugas-tugas yang belum Lyra kerjakan itu banyak. Terus nanti sore aku punya tanggung jawab untuk mengajar TPA,” tolak Lyra untuk yang kedua kalinya.
“Lalu mana tanggung jawab kamu sebagai anak Ibu? Tanggung jawab kamu untuk membantu Ibu dan mengasuh adikmu. Tugas di sekolah memang harus diselesaikan, tapi kamu harus dapat membagi waktu dengan tugas rumah, yaitu tanggung jawab kamu sebagai seorang anak. Mana Lyra yang dulu? Lyra yang selalu membantu Ibu. Lyra yang selalu Ikhlas dan bersemangat dalam hal apapun dan tidak seperti ini. Sekarang kamu cepat lelah dan ngeyel,” kata Ibu dengan sedikit marah.
Ibu langsung meninggalkan Lyra yang wajahnya mulai memerah. Namun, Lyra menghiraukan perkataan Ibunya dan ia pun tidur siang tanpa mengingat sepatah kata apapun dari Ibunya.
Dahulu Lyra memang anak yang baik, suka membantu orangtua, dan ia juga sering membantu orangtuanya. Setiap pulang sekolah dia membantu Ibunya, tetapi seewaktu masih SD dan sekarang dia sudah SMP. Sebenarnya, asalkan bisa membagi waktu saja semua hal seperti, tugas sekolah atau tanggung jawab di rumah dapat dilakukan.
Sore hari, masjid Al-Akbar sudah dipenuhi anak-anak kecil sampai remaja yang datang dan siap untuk belajar Iqra maupun Al-Qur’an. Mereka sudah berpakaian rapi. Setelah adzan berkumandang, mereka bersama-sama membaca ayat suci Al-Qur’an. Lyra mempunyai tanggung jawab untuk mengajar ngaji dengan senang dan sabar. Ada salah satu santri yang datang mendekati Lyra.
“Kak, aku ingin menjadi seperti Kak Lyra,” ucap anak kecil itu.
“Memangnya kenapa, Dek?” tanya Lyra.
“Kakak itu orangnya baik, pintar, terus Kakak juga murah senyum. Pasti Kak Lyra di rumah juga sering bantuin Ibu. Iya kan Kak?” jawabnya.
Lyra hanya tersenyum menanggapi perkataan anak kecil itu. Kata-kata dari mulut anak kecil itu mengingatkannya kepada perkataan Ibunya tadi siang. Sebelumnya ia sempat lupa dan menghiraukan perkataan Ibunya, namun malah teringat lagi. Seribu pertanyaan mulai tumbuh di dalam benaknya.
“Apa aku salah? Tidak itu bukan salahku. Menurutku aku sudah bisa membagi antara tugas dan tanggung jawabku”, ucap Lyra dari dalam hatinya.
“Kak, aku ingin menjadi seperti Kak Lyra,” ucap anak kecil itu.
“Memangnya kenapa, Dek?” tanya Lyra.
“Kakak itu orangnya baik, pintar, terus Kakak juga murah senyum. Pasti Kak Lyra di rumah juga sering bantuin Ibu. Iya kan Kak?” jawabnya.
Lyra hanya tersenyum menanggapi perkataan anak kecil itu. Kata-kata dari mulut anak kecil itu mengingatkannya kepada perkataan Ibunya tadi siang. Sebelumnya ia sempat lupa dan menghiraukan perkataan Ibunya, namun malah teringat lagi. Seribu pertanyaan mulai tumbuh di dalam benaknya.
“Apa aku salah? Tidak itu bukan salahku. Menurutku aku sudah bisa membagi antara tugas dan tanggung jawabku”, ucap Lyra dari dalam hatinya.
Lyra selalu menjadi yang paling benar. Padahal, apa yang dipikirkannya belum tentu benar. Akhirnya, dia selalu teringat nasihat Ibu. Saat sedang belajar, dia tidak bisa fokus karena seperti ada yang mengganjal di pikirannya. Kemudian, Lyra menyempatkan diri untuk bertanya kepada Ibunya. Dia mendekati Ibu yang sedang menonton acara televisi kesukaannya.
“Ibu apa aku salah jika tidak membantu Ibu hanya dengan alasan capek? Aku tidak salahkan Bu?”, tanya Lyra dengan nada lembut.
“Tidak sayang. Kamu tidak bersalah. Ibu tahu kalau kamu sudah capek dengan pelajaran di sekolah belum lagi ditambah tugas-tugasnya. Hanya saja kamu harus bisa membagi waktu atau membedakan antara tugas sekolah dan tanggung jawabmu di rumah. Selain itu, kamu juga harus mempunyai pribadi yang baik dan memberi contoh untuk teman-temanmu yang lain,” nasihat Ibu kepada Lyra.
“Aku memang belum bisa membedakan antar tugas dan tanggung jawab, tetapi kalau bersifat baik dengan lingkungan aku sudah bisa. Baiklah Bu, aku akan mencoba untuk menjadi yang lebih baik lagi. Besok aku pasti sudah bisa membagi waktu untuk tugas sekolahku dan tanggung jawabku sebagai seorang anak,” ucap Lyra optimis.
“Ibu apa aku salah jika tidak membantu Ibu hanya dengan alasan capek? Aku tidak salahkan Bu?”, tanya Lyra dengan nada lembut.
“Tidak sayang. Kamu tidak bersalah. Ibu tahu kalau kamu sudah capek dengan pelajaran di sekolah belum lagi ditambah tugas-tugasnya. Hanya saja kamu harus bisa membagi waktu atau membedakan antara tugas sekolah dan tanggung jawabmu di rumah. Selain itu, kamu juga harus mempunyai pribadi yang baik dan memberi contoh untuk teman-temanmu yang lain,” nasihat Ibu kepada Lyra.
“Aku memang belum bisa membedakan antar tugas dan tanggung jawab, tetapi kalau bersifat baik dengan lingkungan aku sudah bisa. Baiklah Bu, aku akan mencoba untuk menjadi yang lebih baik lagi. Besok aku pasti sudah bisa membagi waktu untuk tugas sekolahku dan tanggung jawabku sebagai seorang anak,” ucap Lyra optimis.
Asalkan mau mencoba pasti apapun dapat dilakukan. Semenjak saat itu, Lyra dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dari sekolah dan tanggung jawabnya di rumah juga dapat dilaksanaknnya dengan senang hati. Selain itu, sifatnya yang semakin baik di lingkungannya membuatnya lebih terkenal dan menjadi anak yang selalu diperbincangkan oleh tetangga-tetangganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar